Saya Traveller, Mental Saya Jatuh Karena Covid

60DTK, Editorial: Covid-19 hampir berumur setahun. Sejak menyebar di Indonesia pada Maret 2020, covid-19 sudah memengaruhi berbagai sendi kehidupan. Tidak hanya dalam hal ekonomi dan perdagangan, atau memengaruhi pedagang-pedagang kecil saja, tetapi juga pada seni, budaya, pariwisata, termasuk masyarakat secara individu. Semua terdampak covid-19 dengan cara beragam rupa.

Dianra, seorang solo traveller, juga menjadi salah satu orang yang terdampak virus ini. Sejak covid-19 menyerang, rencana perjalanannya banyak yang terpaksa harus dibatalkan. Jadwal perjalanan ke India dan Nepal yang sudah diatur sedemikian rupa, visa yang sudah selesai diurus, bahkan tiket yang sudah dibeli sejak 2019 pun, akhirnya sia-sia begitu saja. Refund menjadi jalan satu-satunya.

Saat itu, perempuan berumur 27 tahun ini pun mengaku belum ada kerja yang bisa menghasilkan uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan. Sementara itu, tabungannya makin lama makin berkurang. Pekerjaannya sebelumnya pun sudah Ia tinggalkan untuk travelling. Dan sejak covid-19 menyerang, mencari kerja rasanya sulit, sementara Ia masih harus bertahan di Yogyakarta seorang diri.

Baca juga: Barista yang Bertahan di Tengah Pandemi

Dianra (paling kanan), bersama kawan-kawannya saat berada di Vietnam. (Foto: Istimewa)

Di tengah segala keterbatasan itu, ditambah orang tua yang terus meminta Ia pulang, akhirnya Ia pun memutuskan kembali untuk sementara ke kampung halamannya, di Palu, Sulawesi Tengah.

Namun, cobaan di tengah pandemi masih belum berakhir. Tiba di Palu, Ia mengalami guncangan cukup dahsyat dalam dirinya sendiri. Ia yang selama ini selalu jalan bebas ke mana saja, kini harus terkurung di rumah, tidak kerja, tidak ada aktivitas berarti.

Kaget ‘shock’ dengan kondisi yang amat baru dan mengekang, membuat Ia stres berkepanjangan. Setiap malam Ia menangis dengan kondisinya, hingga berujung sakit, dan memutuskan berhenti dari dunia maya hingga dua bulan lamanya. Mental breakdown karena pandemi, ternyata benar-benar ada.

Baca juga: Tak Pernah Berhenti Melayani Rakyatnya

Menghadapi kondisi yang kian hari kian tidak stabil, anak kedua dari dua bersaudara ini pun berusaha mencari jalan lain menyembuhkan diri. Karena berkelana lagi belum memungkinkan, Ia merasa perlu mencari jalan lain yang lebih baik. Harus ada cara untuk menyembuhkan diri sendiri.

Akhirnya pada bulan Mei, Ia mulai fokus meningkatkan kapasitas diri. Menurutnya, setelah keadaan yang buruk di awal pandemi, tahun 2020 mulai menjadi tahun perenungan. Ia mulai berusaha mengenal dirinya sendiri, apa yang Ia suka, apa tujuannya dalam hidup, dan hal-hal serupa lainnya. Ia juga mulai belajar hal-hal baru, belajar bahasa baru, ikut kelas daring, hingga menonton video-video motivasi, dalam rangka menyembuhkan mentalnya yang sempat kalang-kabut.

Tidak mudah melalui hal-hal itu. Hingga pada Juni sampai Juli akhir, ketika keadaan semakin pulih, new normal life mulai diberlakukan, Ia memutuskan untuk berkelana lagi, travelling lagi, sebulan di daerah Labuan, Sulawesi Tengah. Ia menyebutnya, healing! Bertemu orang-orang baru, berbicara hal-hal baru, yang sudah tidak Ia temukan sejak awal pandemi.

Baca juga: Operasi Katarak Nasionalisme Buta

Kini, Ia sudah berkelana ke Banggai Kepulauan, lalu ke Gorontalo. Kehidupannya sebagai seorang traveller sejak 2012, berkelana ke seluruh Indonesia, ke negara-negara ASEAN, hingga ke Jerman, India, dan Australia, kini terasa seakan kembali lagi, meski tidak sepenuhnya sama seperti hari-hari sebelum pandemi.

Setidaknya, menurutnya, 2020 sudah menjadikan Ia kuat, ikhlas, mampu berdamai sama diri sendiri, dan survive(rds)

Ikuti Kami

Ikuti perkembangan informasi disekitar anda melalui media sosial kami. Ubah hidupmu dengan membaca berita 60dtk.com

Related Articles