Senggol – Bacok: Toxins and Antidotes on Social Media

Oleh: Farizka Humolungo, member of Gorontalo Youth Assembly

60DTK, Editorial – Seorang certified mental health therapist, Temmy Andreas Habibie, dalam webinar yang digelar oleh Gorontalo Youth Assembly (GYA) pada 27 Juni 2020 lalu, menegaskan soal pentingnya kesehatan dalam bermedia sosial.

Kak Temmy—begitu sapaan akrabnya—memaparkan penggunaan dan pengguna media sosial dari sisi psikologi. Menurutnya, pada dasarnya, semua media sosial bertujuan untuk menghubungkan orang yang jauh menjadi dekat. Dan saat pandemi Covid-19 seperti ini, selama lockdown, PSBB, dan physical distancing, akan sulit rasanya mental kita hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lain.

Namun demikian, penggunaan media sosial tersebut tentu harus bisa di-manage dengan baik. Karena jika tidak, justru akan semakin membebani kesehatan mental kita -yang dalam hal ini para pengguna aktif media sosial.

Baca juga: Ugly? Step Back! Pretty? Go Ahead!

Menurut Kak Temmy, pengguna sosial media itu ada beberapa jenis. Pertama, tipe chatarist, yakni tipe yang menggunakan media sosial sebagai sarana melepaskan energi dan emosi negatif yang dirasakan dengan cara membuat status yang puitis, bernuansa emosi, dan caption foto yang menguraikan perasaannya.

Kedua, tipe narcissists/attention seekers, adalah tipe yang menggunakan media sosial untuk memperoleh pengakuan/recognition dari pengguna media sosial lainnya dengan mengunggah hal-hal yang terkait ranah pribadi atau privasi.

Ada juga tipe social climber, yakni tipe yang menggunakan media sosial untuk meningkatkan  harga diri dan status sosial dirinya dengan mengunggah barang-barang mahal atau situasi yang penuh dengan orang-orang high class.

Baca juga: Black Lives Matter

Selain tipe-tipe di atas, ada juga tipe stalkers atau penguntit yang suka diam-diam mengamati unggahan orang; hingga buzzer, yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk meyakinkan publik terhadap topik, produk, dan tokoh yang dikampanyekan, dan dibayar oleh pemesannya.

 

Toxins Side Dalam Bermedia Sosial

Beberapa jenis toxins dalam bermedia sosial, antara lain selfitis, orang yang terobsesi untuk berswafoto dan mengunggahnya di media sosial untuk mendapatkan likes dan comments yang banyak. Ada pula jenis nomophobia, ketika seseorang merasa takut tidak dapat menggunakan ponsel karena pulsa habis atau signal jelek.

Selain itu, ada juga tipe cyberchondria dan star syndrome. Cyberchondria adalah jenis yang cenderung percaya bahwa Anda memiliki semua di diri Anda setelah membaca secara daring. Sebut saja tipuan, kemalasan, kesalahan informasi, atau reaksi yang berlebihan. Dalam beberapa kasus menimbulkan kecemasan baru karena banyak informasi medis di luar sana tanpa konteks yang tepat.

Baca juga: 7 Pemuda Dan Losungnya

Sedangkan jenis star syndrome adalah sebuah kondisi mental seseorang yang terlalu asyik dalam kesohoran dan popularitas, sampai lupa akan realitas hidupnya. Kondisi mental seseorang yang mengalami star syndrome umumnya akan lebih rentan mengalami depresi dan psikosomatis, yaitu penyakit fisik yang disebabkan oleh gangguan pada psikologinya.

 

Antidotes Dalam Menyembuhkan Toxins 

Menurut Kak Temy, beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan sifat toxic dalam bermedia sosial adalah dengan build and maintain self-esteem, atau dengan kata lain membangun dan menjaga harga diri. Jangan terlena dengan popularitas di media sosial. Ingat bahwa menjadi diri sendiri adalah opsi yang paling mudah untuk nyaman dan bahagia. Be high value male/high value female.

Selain itu, perlu juga untuk membangun jarak antara diri dan gawai, sebab terus-menerus berinteraksi dengan gawai dan media sosial juga dapat mengganggu kesehatan. Kita juga perlu melakukan klarifikasi melalui telepon atau langsung untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasi sebuah status, terutama apabila kita merasa status tersebut sepertinya tentang kita.

Baca juga: Melihat Catatan Anthony Reid: Persebaran Wabah Di Indonesia Abad Ke-16 & 17

Mengapa hal ini penting? Karena seringkali terjadi bias dalam menginterpretasi sebuah unggahan di media sosial. Mungkin saja status tersebut tidak ditujukan kepada siapa-siapa atau bisa jadi status tersebut sebagai bahan renungan si pembuat status. Kita tidak akan tahu apabila kita tidak mengklarifikasi secara langsung. (rds)

 

Note: Tulisan ini adalah hasil notulensi dari webinar tentang kesehatan bermedia sosial yang digelar oleh Gorontalo Youth Assembly pada 27 Juni 2020. Webinar tersebut menjadi pemecah rekor dengan audiens terbanyak, dari berbagai webinar yang pernah digelar GYA selama ini.