Menyirat Kenangan di Rumah Keluarga Habibie

Setelah memerhatikan keadaan rumah, saya masuk ke dalam, meskipun tampak dari luar, keadaan rumah itu sangat sepi. Hanya karangan ucapan atas meninggalnya B.J Habibie yang meramaikan teras depan rumah tersebut, tak ada ramai-ramai orang seperti pagi hari tadi.

60DTK – Lipsus: Waktu mulai beranjak hari itu, aktivitas mencari warga memasang bendera setengah tiang di depan rumah mereka saya sudahi. Kiranya waktu menunjukan pukul 15.00 Wita, artinya langit Gorontalo menapak ke sore hari. Adzan Asar berkumandang di masjid-masjid, saya hentikan perjalanan, dan memulainya kembali setelah para Muazin selesai mengumandangkan melalui toa-toa masjid.

Jarak dari tempat saya beristirahat menuju rumah keluarga Habibie tidak jauh lagi. Bisa ditempuh dalam hitungan menit. Jaraknya sekitar 3 Kilometer, memakan waktu 6-10 menit saja dengan sepeda motor.

Perjalanan saya kemudian terhenti di depan SPBU Tamalate. Tak lama kemudian saya beranjak, motor saya parkir di seberang jalan, dan sesekali saya melempar pandang hanya untuk memerhatikan keberadaan motor dari kejauhan.

Setelah menyeberang, rumah keluarga Habibie telah tampak, di depan mata saya, tak berjarak jauh seperti saya di seberang tadi. Konon, setiap orang yang ingin masuk di rumah ini harus sepengetahuan keluarga Habibie, terkhusus pada Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Dia satu-satunya orang yang bisa memberikan izin untuk masuk lebih jauh ke dalam rumah.

Namun cerita soal izin tadi tidak berlaku untuk hari (12/9) ini, pintu gerbangnya terbuka lebar, tak ditutup seperti cerita-cerita yang saya dengar.

Halamannya luas, pekarangan rumah ini ditanami bunga, dan hampir di setiap sudut banyak tanaman selain bunga juga. Di sisi kiri ada beberapa kanopi untuk tempat peristirahatan keluarga, dan di bagian belakang ada satu rumah yang dikhususkan untuk penjaga yang bertugas menjaga dan merawat rumah keluarga Habibie ini.

Setelah memerhatikan keadaan rumah, saya masuk ke dalam, meskipun tampak dari luar keadaan rumah itu sangat sepi. Hanya karangan ucapan atas meninggalnya B.J Habibie yang meramaikan teras depan rumah tersebut, tak ada ramai-ramai orang seperti pagi hari tadi.

Saya kemudian masuk, setiap langkah kaki menaiki anak tangga diiringi dengan ketakjuban, rumah keluarga Habibie ini kokoh berdiri, meskipun umur rumah sudah tidak muda lagi, tapi perawatannya masih terus berjalan.

“Kayu dari rumah ini bahannya dari kayu hitam atau kayu Gaharu sering orang sebut, makanya dia bisa bertahan lama,” sahut Arkam Laya sambil menunjukan kayu-kayu penyangga di berbagai sudut rumah ini.

Katanya, rumah ini modelnya rumah panggung. Rumah khas orang Gorontalo tempo dulu, tapi karena beberapa tiang pondasi kayu mulai bermasalah, makanya kami memugarnya. Begitupun dengan lantai pada rumah ini, dulunya papan tapi kami pugar juga dengan bahan lantainya dari campuran semen dan pasir.

“Pemugaran rumah ini dilakukan pada tahun 1992, tiang pondasi di bawah dulunya kayu kini kami plesteri dengan beton tapi tidak dengan mengurangi struktur bangunan rumah ini pada awalnya,” ujar Arkam orang yang pertama saya temui di dalam rumah.

“Tadi pagi banyak orang di sini, ramai. Ada wartawan televisi juga yang live tadi di sini dengan beberapa keluarga Habibie lain, tapi sebentar lagi Oma Tum mau ke sini.”

Mendengar kata Tum, saya menimpali perkataan Arkam tadi. Ia hanya mengatakan, Oma Tum salah satu orang yang masih tahu dan ingat silsilah keluarga Habibie di Gorontalo,”Tunggu saja, sedikit lagi beliau sampai sini.”

Menyirat Kenangan Oma Tum

Tum Habibie Bumulo atau Oma Tum sapaan akrab dari keluarga untuknya sampai juga. Saat hari mulai sore,  tak berselang beberapa menit kedatangan saya, Oma Tum menaiki anak tangga satu per satu menuju ke dalam rumah. Ia kelihatannya masih kuat meski umurnya sudah 75 tahun. Oma Tum berhasil menaiki beberapa anak tangga sambil di gopoh oleh cucu-cucunya di kanan dan kiri lengannya.

Tum Habibie Bumulo atau biasa disapa Oma Tum, saat berbagi cerita kenangannya dengan almarhum B.J Habibie di rumah keluarga Habibie. Foto: Zulkifli M.

Setelah melewati tangga, Oma Tum kemudian berjalan sendiri menuju ke arah kami, maklum setelah saya datang beberapa teman-teman pewarta lainnya mulai berdatangan meramaikan rumah ini. Yang lain sedang asik melihat foto-foto almarhum B.J Habibie dan keluarganya yang terpampang rapi di berbagai sudut rumah. Dan saya fokus pada kedatangan Oma Tum.

“Saya ini sebenarnya tidak sehat, badan saya kurang enak. Tapi karena ingin mengingat kembali kenangan yang ada di rumah ini, saya ke sini,” ujar Oma Tum sambil berjalan mengarah ke kursi yang ada di ruang tamu. “Saya ingin duduk, bisa kan?,” pintanya.

Meskipun dalam keadaan sakit, Oma Tum terus mengingat segala kenangannya di rumah ini dan sosok sang kakak almarhum B.J Habibie.

“B.J Habibiie itu seumuran dengan kakak saya yang ketiga–Abubakar Habibie ia lahir pada tahun 1936. Jadi saya dan beliau sepupuan tapi saya sudah menganggap pak Habibie adalah kakak saya sendiri,” Oma Tum memulai cerita mengenai kenangannya dengan almarhum B.J Habibie. Kamis, (12/9/2019).

Kenangan tentang B.J habibie ini sebenarnya tidak banyak, waktu bertemu dengan beliau saja tidak banyak, bisa dihitung. “Apalagi waktu B.J Habibie memulai studinya di tanah rantau di Jawa dan kemudian ke Jerman, kami mulai tidak bertemu waktu itu hanya saja ketika dia menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi pernah sekali saja bertemu, dan setelah menjabat sebagai presiden RI ketiga waktu kami bertemu sangat kurang.”

“Terakhir ketemu, waktu dia menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Seingat saya dia mengadakan doa di rumah ini, saya hanya dapat memandangnya dari jauh waktu itu, karena keterbatasan keadaan. Dan setelahnya komunikasi menjadi lebih sedikit karena jabatan beliau sebagai Menteri,” ujar Tum kepada saya dan beberapa wartawan lainnya yang ada di rumah tersebut.

Hari makin sore, namun semangat Tum membagikan ceritanya seperti semangat anak muda. Sangat santai tapi bermakna. Saat Oma Tum mulai bercerita, ruang tamu mulai sepi kembali, seperti sepi di awal kedatangan saya tadi. tak ada suara lainnya. Kecuali hanya satu suara yang tak bisa dimatikan, tapi hanya dikecilkan. Suara televisi yang sedang menyala dan memutarkan siaran langsung pemakaman B.J Habibie terdengar hingga ke ruang tamu tempat kami mendengar cerita dari Oma Tum.

“Kenangan yang paling saya ingat itu ketika Habibie di sunat/khitan di Padebuolo,” kenang Oma Tum.

Kata Oma Tum, Film Rudy Habibie yang ia tonton memaksa ia memutar kembali memori saat itu. “Sunat di Padebuolo itu mengingatkan saya waktu kecil, saya bermain di halaman rumah dan Rudy sedang dikhitan di dalamnya.”

“Saat proses khitan yang dilaksanakan di rumah om kami Muhammad Habibie di Padebuolo saat itu sangat ramai sekali, banyak keluarga yang datang dan saat itulah Habibie dikhitan dan saya masih anak-anak waktu itu. Tahunya hanya bermain kue-kue dengan teman seumuran,” ujarnya.

“Ia di khitan di atas pisang kan Oma?,” tanya saya kepada Oma Tum

“Iya, secara adat tradisional Gorontalo waktu itu,” jawab Oma Tum kembali.

Suasana di rumah ini kemudian berubah, penuh emosi. Setiap cerita yang Oma Tum  katakan memainkan perasaan haru terhadap kepergian sosok B.J Habibie.

Suara Televisi itu menguat kembali, kali ini Lagu Gugur Bunga mengiringi cerita Oma Tum, semua terdiam seakan ada sosok prajurit Indonesia  yang mati di medan perang dan harus rela menggugurkan nyawanya bagi kemaslahatan umat manusia sebagai bangsa yang merdeka. Saya larut dalam lagu gugur bunga, ikut menyanyikannya dengan sangat pelan. “B.J Habibie telah berpulang,” terdengar dari suara televisi yang berada di dapur.

Almarhum B.J Habibie sedang berfoto bersama keluarga di Gorontalo bertempat di rumah keluraga Habibie di Tamalate, Kota Gorontalo. Kamis (12/9). Sumber: Foto ini dipotret kembali oleh Zulkifli M. dari beberapa bingkai foto/ dokumentasi Habibie yang terpajang rapi di dinding-dinding rumah keluarga Habibie, di Tamalate, Kota Gorontalo.

Oma Tum melanjutkan ceritanya, mendengar dia meninggal tadi malam (11/9) saya merasakan kehilangan, kehilangan terhadap sosok kakak yang selama ini keinginan bertemu namun dibatasi oleh waktu dan keadaan.

“Saya turut berduka cita, atas meninggalnya beliau yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. saya kehilangan kakak saya yang saya cintai, meskipun kurang bertemu tapi saya amat merasakan kehilangan beliau,” ungkapnya dengan lirih.

Perkataan saya kehilangan seorang kakak menguras ingatan Oma Tum, ia mengatakannya dengan raut wajah yang sedih dan sedu sedan. Semakin dalam ia menyampaikan, suaranya semakin dalam, sedikit menghillang, penuh dengan kesedihan, seperti terbawa angin, angin kesedihan yang menyampaikan B.J Habibie telah berpulang hari ini.

“Yang saya ingat tentang almarhum dia orang yang tegas, displin, dan patut jadi teladan. Dia selalu mengingatkan semua keluarganya harus dibimbing dengan baik dan saya selalu menyampaikan itu kepada keluarga yang lain dan cucu-cucu saya agar selalu mengikuti  prinsip hidup dan jejaknya,” imbuh Oma Tum.

Cerita tentang kenangannya dengan B.J Habibie kemudian berhenti. Oma Tum sedikit terbawa haru, dibawa  kesedihan, dan mulai terdiam. Kemudian diamnya ditelan kenangan, kenangan akan waktu bertemu yang terbatas waktu itu, pertemuan antara kakak dan adik yang diputus oleh keadaan dan jarak.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.