Takut Dijauhi Karena Covid-19, Hingga Berusaha Berdamai Dengan Diri Sendiri

  • Whatsapp
Dhur Anni. (Foto: Istimewa)

60DTK, Editorial – Covid-19 kini memang menjadi momok yang cukup menakutkan bagi sebagian besar orang. Bagaimana tidak? Meski akhir-akhir ini berita soal orang yang meninggal karena covid-19 terhitung mulai menurun, tapi sejak awal-awal covid-19 hingga beberapa waktu lalu kita terus dibombardir dengan pemberitaan soal covid-19 yang tidak ada habisnya.

Baca juga: Duka Menjadi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19

Bacaan Lainnya

Covid-19 mematikan, covid-19 bisa merenggut orang-orang terkasih, menjadi topik yang terus dicuatkan. Pada akhirnya, covid-19 menjelma jadi ketakutan baru di masyarakat. Sekali terkonfirmasi positif covid-19, harus siap menerima konsekuensi dijauhi bahkan menjadi terpinggirkan dari masyarakat.

Dhur Anni. (Foto: Istimewa)

Hal inilah yang dirasakan oleh Dhur Anni, seorang perempuan berdarah Melayu yang kini menetap di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

Terkonfirmasi positif covid-19 pada bulan Juni kemarin, perempuan yang akrab disapa Anni ini mengaku sempat merasa cemas dan takut. Bukan karena covid-19 yang bersarang di tubuhnya, tapi lebih ke pemikiran tentang: bagaimana pandangan orang-orang terhadap saya setelah ini?

Baca juga: Covid-19 yang Mengubah Segala Rencana

Ia mengaku tahu, di kondisi seperti saat ini, covid-19 memang menjadi momok yang sangat menakutkan di tengah masyarakat. Terkonfirmasinya dia sebagai positif covid-19, menimbulkan keresahan tentang bagaimana dia akan melanjutkan pekerjaan setelah ini, apakah nanti posisinya sebagai pekerja sosial akan tetap baik-baik saja, sementara dia nantinya akan menyandang status sebagai ex-pasien covid-19.

Dhur Anni. (Foto: Istimewa)

“Soalnya ini, kan sangat memengaruhi. Karena kalau kita udah postif, masa isolasinya lama, terus nanti efek jangka panjangnya, orang-orang menjauhi kita karena menganggap kita udah terinfeksi,” ujar Anni saat diwawancarai awak media 60dtk di Pacet, Mojokerto, Senin (25/10/2021).

“Apalagi aku pekerja sosial yang harus berinteraksi dengan banyak orang, jadi khawatir dan takut orang-orang menjauhi dan gak mau berkomunikasi lagi sama aku karena dianggap bawa-bawa virus. Nanti gimana dengan tanggung jawab aku di pekerjaan, kan,” lanjut perempuan mungil itu.

Baca juga: Pantang Menyerah Selesaikan Studi Meski di Tengah Pandemi

Memang, saat terkonfirmasi positif waktu itu, Anni sedang menjabat sebagai aide de camp atau ajudan pribadi salah satu politisi di Kabupaten Mojokerto. Tidak heran, keresahan terbesarnya saat itu adalah soal kelanjutan pekerjaannya usai isolasi.

Meskipun begitu, terlepas dari keresahan soal pekerjaannya, perempuan kelahiran 21 April 1998 ini juga mengaku, sehari setelah dinyatakan positif covid-19, Ia juga mulai merasa ketakutan. Bagaimana tidak? Saat bangun pagi keesokan harinya, Ia mulai demam, kehilangan indra perasa dan penciuman, pusing, lemas, bahkan menggigil seharian penuh.

Baca juga: Menyusuri Indonesia Sekaligus Bertahan Sebijak Mungkin di Tengah Pandemi

Ketakutan akan kematian bahkan mulai membayangi, terlebih karena setiap harinya harus mendengar kabar kematian dari corong-corong informasi lingkungan sekitar tempat isolasinya. Selain itu, pemberitaan tentang kematian yang bertubi-tubi lewat media-media pemberitaan juga terus merusak suasana hati. Apakah aku orang selanjutnya yang akan diberitakan seperti itu?

“Jadi hampir tiap hari itu ada informasi orang meninggal minimal tiga dari gang-gang sekitar. Jadi aku sering nanya ke diri sendiri juga, apa aku yang selanjutnya?” ucap perempuan yang saat itu sedang sibuk mengurusi akhir studinya itu.

Namun, Anni tiba juga di satu titik di mana Ia merasa harus melawan rasa takutnya itu. Ia mulai menyibukkan diri dengan urusan akhir studinya, melakukan hal-hal menyenangkan seperti menonton film dan berkomunikasi dengan kawan-kawan terdekat, hingga menguatkan diri dengan mengingat keluarganya yang jauh di Jambi sana.

“Pokoknya waktu itu aku nyibukkin diri ngurus skripsi, inget-inget orang tua, dan nonton movie One Piece juga, hehe. Jadi menyenangkan diri sendiri, dan menguatkan diri sendiri juga dengan kata-kata: aku bisa, aku harus kuat,” ucap Anni lagi.

Baca juga: Barista yang Bertahan di Tengah Pandemi

Terlepas dari itu, Alumni Institut Kiai Haji Abdul Chalim ini juga mengaku mulai rajin mencari informasi bagaimana agar dia bisa secepatnya sembuh dari virus itu, dan mulai melakukan “ritual-ritual” untuk menyembuhkan diri sendiri.

“Aku mulai senam setengah sampai satu jam sehari, berjemur, nyuci hidung pakai cairan pembersih dan air hangat, menghirup uap panas yang udah dicampur minyak kayu putih. Pokoknya aku berusaha melakukan banyak hal untuk cepat sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa,” ucap Anni bersemangat.

Atas semua yang sudah pernah Ia lalui sebelumnya, Anni pun berpesan kepada orang-orang yang sedang berusaha keluar dari kungkungan covid-19, untuk tidak menyerah dan jangan terkungkung dalam rasa takut.

“Yakinlah dengan dirimu sendiri, karena kunci kesembuhan itu dari rasa percaya diri kita sendiri. Semakin yakin, bakal semakin kuat usaha kita untuk sembuh. Dan paling penting, kalau sudah pernah positif dan udah sembuh, jangan sampai abai dengan kesehatan diri sendiri. Jaga stamina dan imun tubuh. Pola hidup, pola makan dijaga juga. Pasti bisa,” tutup Anni menyemangati. (nkn)

Pos terkait